Pramono Akui Ruang Laktasi Masih Sulit Ditemukan di Jakarta

2026-07-20 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku menerima banyak keluhan dari masyarakat mengenai masih minimnya ruang laktasi di fasilitas publik dan perkantoran di Jakarta.

Karena itu, Pemprov DKI akan mendorong penyediaannya di lebih banyak ruang publik.

Hal itu disampaikan Pramono usai menghadiri peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tingkat Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota, Senin (20/7/2026).

"Saya juga mendapatkan banyak masukan untuk ruang laktasi di kantor-kantor terutama dan juga fasilitas publik yang dimiliki oleh Jakarta memang belum secara optimal," kata Pramono, Senin.

Menurut dia, setiap pembangunan ruang publik ke depan harus mulai memperhatikan keberadaan ruang laktasi agar ibu menyusui lebih mudah saat beraktivitas di luar rumah.

Pramono mencontohkan Perpustakaan Nyi Ageng Serang yang baru diresmikan telah memiliki ruang laktasi.

"Contoh kemarin ketika saya meresmikan Perpustakaan Nyi Ageng Serang, itu betul-betul ada ruang laktasi yang cukup baik. Karena memang sebagai kota global tentunya kami juga mempersiapkan itu," ujarnya.

Ia mengatakan ruang laktasi akan dibangun di berbagai fasilitas untuk umum.

"Jadi untuk ruang laktasi, ini akan menjadi gerakan bagi siapa pun yang ingin membuka ruang publik, maka ruang laktasi juga dipersiapkan. Karena Jakarta harus menjadi provinsi yang ramah dan nyaman bagi anak-anak," ucap Pramono.

Pramono tak menampik jika masih ada keluhan masyarakat yang menyebut ruang laktasi masih sulit ditemukan.

Bahkan, ada beberapa ruang laktasi yang kerap terkunci sehingga tidak bisa digunakan.

Selain menyoroti ruang laktasi, Pramono juga mengatakan Pemprov DKI akan terus menambah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Namun, pembangunan RPTRA ke depan tidak lagi harus berukuran besar.

Pemprov akan memanfaatkan lahan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) agar ruang bermain anak lebih banyak dan lebih dekat dengan permukiman warga.

“Kita terus akan melanjutkan dan seperti yang berulangkali kami sampaikan untuk RPTRA tidak lagi dengan konsep yang besar-besar, tapi apa pun, terutama kalau kemudian ada fasos-fasum yang bisa dibuat untuk RPTRA, saya mendorong untuk segera dilakukan itu,” ucap Pramono.

Saat ini, kata Pramono, Jakarta baru punya 324 RPTRA yang tersebar di beberapa wilayah.

Menurut dia, pemanfaatan lahan fasos dan fasum menjadi salah satu cara untuk menambah jumlah RPTRA, terutama di kawasan

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.