Dari Soekarno hingga Prabowo, Pesan Kebangsaan 8 Presiden di HUT ke-81 RI

2026-08-17 HaiPress

JAKARTA, iDoPress -Pesan kebangsaan dari delapan presiden Indonesia ditampilkan dalam rangkaian Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026).

Pesan tersebut disampaikan melalui cuplikan pidato Presiden pertama RI Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto yang ditayangkan di hadapan para tamu dan peserta upacara.

Penayangan video dilakukan setelah persembahan lagu "Hari Merdeka" oleh Sekolah Rakyat, Orkestra, dan Paduan Suara Nasional Gita Bahana Nusantara.

Dalam rangkaian pesan tersebut, para presiden menyoroti sejumlah nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa, mulai dari Pancasila, persatuan, kemajemukan, hingga pentingnya bergerak bersama membangun Indonesia.

Soekarno (1945-1967)

Presiden pertama RI Soekarno menekankan Pancasila sebagai dasar yang mampu menghimpun kekuatan rakyat Indonesia.

"Bahwa Pancasila itu adalah benar-benar satu dasar yang dinamis, satu dasar yang benar-benar dapat menghimpun segenap tenaga rakyat Indonesia," ujar Soekarno dalam cuplikan pidatonya.

Soeharto (1967-1998)

Presiden kedua RI Soeharto menyampaikan pesan mengenai nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila.

"Paham kita bersumber pada sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang diresapi oleh keempat sila lainnya oleh Pancasila itu," kata Soeharto.

BJ Habibie (1998-1999)

Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie menyoroti keberagaman masyarakat Indonesia.

Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan afiliasi politik tidak menjadi penghalang bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar.

"Saya yakin meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat, dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras, kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang," ujar Habibie.

Abdurahman Wahid (1999-2001)

Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menekankan pentingnya menghargai kemajemukan dan perbedaan pendapat.

"Dan itu semua timbul dari sikap kita menghargai kemajemukan, menghargai perbedaan pendapat, ini harus kita pegang teguh," kata Gus Dur.

Megawati Soekarnoputri (2001-2004)

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menggambarkan Pancasila sebagai rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua. Nilai dasar Indonesia, rumah kita selamanya, untuk semua keluarga menyatu, untuk semua saling membagi," ujar Megawati.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.